[Review Novel: 1] Hujan -Tere Liye

 

Teks Tanggapan Novel Hujan


Identitas Buku :

·       Judul buku            : Hujan

·       Pengarang             : Tere Liye

·       Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama

·       Tahun Terbit         : Januari 2016

·       ISBN                     : 978-602-03-2478-4

·       Genre                    : sains-fiksi, roman

·       Cetakan XLII        : Agustus 2021

·       Tebal halaman      : 320 halaman

·       Lebar                     : 13.5 cm

·       Panjang                 : 20.0 cm

·       Desain Cover        : Orkha Creative

·       Berat Buku            : 500 gram

 

·      Pendahuluan

 

Belum cukup dengan Hafalan Shalat Delisa yang diadaptasikan ke layar lebar, Tere Liye atau dengan nama asli Darwis kembali untuk membuat hati para pembacanya tersentuh dengan novel Hujan pada Januari 2016. Sejak saat itu, namanya yang terus melambung dalam dunia literasi tentu sulit dipungkiri. Tak ada alasan untuk heran, kebanyakan karya-karyanya seperti Tentang Kamu, Serial Bumi, Negeri Para Bedebah, Pulang-Pergi, dan masih banyak lagi, selalu berhasil untuk menempati posisi Best Seller. Tak pernah gagal untuk membuat para pembaca masuk tersedot ke dalam buku-bukunya, novel Hujan yang ditulisnya kali ini, dipastikan bukanlah sebuah pengecualian.

Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang melupakan, tentang perpisahan, dan tentang hujan. Itulah tema kisah yang membangun cerita novel Hujan karya Tere Liye. Meski hanya satu kalimat, pembaca yang telah menyelesaikan bukunya pasti tahu betapa dalam makna dari kalimat itu.

 

·      Sinopsis Novel Hujan Karya Tere Liye

 

Membuat pembaca penasaran karena alur maju-mundurnya, pada bab pertama, novel Hujan ini dimulai dengan peristiwa kedatangan Lail, sang tokoh utama, ke pusat terapi saraf untuk memodifikasi ingatannya. Ketika ditanya apa yang ingin dilupakan, Lail menjawab, “Aku ingin melupakan hujan.” Ceritapun bergulir ke masa lalu. Dengan dibantu oleh Elijah, seorang paramedis senior, Ia menceritakan dari pertemuan awalnya dengan Esok sampai alasan kenapa Ia ingin melupakan hujan yang bahkan merupakan salah satu hal favoritnya. Lail menceritakan seluruh kisah hidupnya sejak peristiwa bencana alam tersebut hingga saat Ia mendatangi pusat terapi saraf tersebut.

Walau novel ini sekilas terlihat seperti buku romansa biasa, namun ternyata buku ini berlatarkan di masa depan. Pada bab berikutnya, diceritakan bahwa novel ini berlatarkan pada tahun 2042, di mana dunia dipenuhi dengan teknologi-teknologi canggih, termasuk pusat terapi saraf yang Lail datangi. Peran manusia tergantikan oleh ilmu pengetahuan dan mesin mutakhir pada masa itu.

Menceritakan tentang kisah dua tokoh utamanya yang bernama Lail dan Esok, kedua tokoh ini dipertemukan saat terjadi bencana gunung meletus, tahun 2042. Lail adalah seorang perempuan berusia 13 tahun. Ketika hari pertama sekolah, Lail dihadapkan dengan bencana gunung meletus dan gempa dahsyat. Bencana itu meluluhlantakkan kota tempat Ia tinggal. Tidak hanya itu, musibah besar tersebut merenggut nyawa kedua orang tua Lail. Beruntungnya, Lail diselamatkan oleh remaja laki-laki berusia 15 tahun yang bernama Esok yang juga kehilangan keempat kakaknya. Gunung meletus melenyapkan sebagian besar isi bumi dengan efek yang teramat dahsyat.

Kedua tokoh ini menjadi dekat di kamp pengungsian pasca bencana. Semua orang di kamp mengenal mereka dengan baik dan menganggap mereka kakak-adik yang tak terpisahkan. Saling ada untuk satu sama lain. Seperti saat Lail bersedih karena kehilangan orang tuanya, yang membuatnya lari ke tempat dimana ibunya meninggal. Dimana saat itu, Esok yang sadar akan fakta bahwa hujan asam akan turun pun menyelamatkan Lail dengan sepeda petugas kamp. Atau, seperti saat Ibu Esok tak kunjung bangun dari koma; akhirnya kembali pulih meski harus kehilangan satu kakinya.

Tokoh laki-laki bernama Esok atau yang bernama lengkap Soke Bahtera digambarkan sebagai anak muda yang jenius dan pintar. Bahkan disaat berumur 15 tahun, Ia berhasil memecahkan permasalahan cara menyedot air dari kedalaman 120 meter di kamp pengungsian. Singkat cerita, beberapa waktu kemudian, pemerintah mengumumkan bahwa tempat pengungsian mereka akan ditutup. Penutupan itu membuat Esok dan Lail berpisah. Esok diadopsi oleh keluarga pejabat terhormat di kota tempat tinggal mereka. Sementara, tokoh wanita yang bernama Lail yang memiliki karakter sebagai gadis sederhana, hidup di panti sosial dan bertemu dengan teman sekamarnya: Maryam, yang  akhirnya menjadi sahabat terbaiknya.

Meskipun Lail dan Esok berpisah, keduanya memiliki jadwal pertemuan sebulan sekali. Bagi Lail, pertemuan itu sangatlah berarti. Saat bertemu, mereka mengisi pertemuan dengan obrolan ringan, berbagi cerita tentang aktivitas atau kegiatan masing-masing. Namun, jadwal pertemuan itu menjadi berantakan semenjak Esok meneruskan pendidikan ke ibukota. Akibatnya, Lail dan Esok hanya bisa bertemu saat Esok liburan semester.

Lail mencoba untuk menyibukkan dirinya dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat. Kemudian, Lail dan Maryam mendaftarkan diri di sebuah organisasi relawan dan menjadi relawan yang paling muda.

Tak hanya itu, keduanya pun mengukir prestasi. Penuh dengan ketegangan, Tere Liye menceritakan kisah heroik kedua sahabat ini saat menjadi relawan kemanusiaan. Salah satunya adalah saat mereka ditempatkan pada sektor 2 di mana ada dua kota kembar yang terletak di hulu dan hilir yang dinyatakan berjarak 50 kilometer. Ketika itu, bendungan di hulu retak, lalu bilamana bendungan tersebut jebol, akan menghancurkan dua kota kembar tersebut. Mereka harus berlari sejauh 50 kilometer untuk menyelamatkan penduduk yang tinggal dekat bendungan raksasa itu. Melalui badai petir, mereka berlari menyusuri hutan selama delapan jam dengan berani.

 Dengan keberanian dan aksi heroik yang dilakukan oleh Lail dan Maryam, keduanya berhasil memperingati kota itu dan jasa mereka nyatanya membuahkan perhargaan. Kesibukan yang dijalani Lail membuat dirinya mampu mengalihkan rasa rindunya pada Esok. Setelah lulus, Lail dan Maryam akhirnya bersekolah di sekolah perawat.

Setiap kali Esok datang untuk menemui Lail, Ia menaiki sepeda dengan warna merah yang dulu ketika bencana kerap kali mereka gunakan, lalu dilengkapi dengan topi pemberian Lail, Esok selalu menghampirinya tanpa terduga-duga.

Namun, sayangnya, frekuensi pertemuan keduanya pun semakin jarang. Lail dan Esok hanya dapat bertemu selama sekali dalam satu tahun, itu juga apabila Esok tidak sibuk. Lail tidak pernah menghubungi Esok begitupun sebaliknya. Terkadang dirinya menanyakan kabar Esok pada Ibu Esok, begitu pula dengan Esok. Usut punya usut, nyatanya keluarga yang mengadopsi Esok merupakan keluarga dari seorang walikota.

Singkat cerita, Esok yang sedang mengerjakan proyek sebuah kapal luar angkasa, hendak membawa penduduk di bumi ke luar angkasa guna menghindari bencana dahsyat yang dikhawatirkan akan melebihi gunung meletus pada masa itu. Bencana tersebut, yaitu di mana suhu bumi akan semakin memanas yang diakibatkan kerusakan lapisan stratosfer karena keegoisan para manusia bumi.

Semenjak peristiwa gunung meletus, iklim di bumi sangat tidak terkendali. Para petinggi dari negara mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) guna memecahkan persoalan tersebut. Akhirnya, para petinggi negara subtropis dan tropis berlomba mengirimkan pesawat hingga berkali-kali untuk menyemprotkan gas anti sulfur dioksida di lapisan stratosfer bumi.

Dalam jangka yang terbilang singkat, hal tersebut memang membuat iklim kembali pulih, tetapi persoalan baru justru muncul. Esok dengan kecerdasan yang dimilikinya pun ikut andil dalam proyek tersebut. Namun, tidak semua penduduk bumi dapat menaiki kapal luar angkasa itu. Penduduk Bumi yang boleh pergi dipilih secara acak. Esok memiliki dua tiket. Ayah angkatnya, sang Walikota memohon kepada Lail agar satu tiket itu diberikan kepada anak kandungnya, yaitu Claudia karena Ia tahu bahwa Esok sangat mencintai Lail dan kemungkinan besar akan memberikan salah satu tiketnya kepada Lail.

Lail telah tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang dewasa, seakan memahami perasaan yang tengah dialami dan dirasakannyaLail membutuhkan sebuah kepastian dari Esok. kemudian, satu hari sebelum hasil pengumuman dari pemerintah, Lail tidak mendapati kabar dari Esok, perasaannya pun menjadi kacau.

Di akhir waktu menjelang penerbangan pesawat itu, Lail malah memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan modifikasi ingatan. Ia ingin menghilangkan semua beban pikirannya dan menghapus itu semua dari ingatannya. Sementara, proses penghapusan memori itu tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun dan keputusan Lail sudah bulat. Lantas bagaimana kelanjutan kisah mereka? Akankan Lail melupakan Esok setelah kenangan tentang Esok mengisi hati dan memori Lail?

 

·      Kelebihan

 

1.    Bahasa Mudah Dipahami

Materi bahasa di dalam novel ini cukup ringan dan mudah dipahami. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa yang sederhana sehingga pesan yang ada di dalam novel ini dapat diterima sampai ke lubuk hati dan pikiran.

2.    Alur Susah Ditebak

Suatu buku yang bagus adalah buku yang membuat pembacanya penasaran. Tere Liye sudah berhasil membuat jalan ceritanya tidak bisa ditebak sama sekali sehingga membuat pembaca bertanya-tanya, bahkan sampai epilog: bagaimana cerita ini akan selesai. Konflik yang muncul bertubi-tubi dari awal novel tidak meninggalkan kesan yang mendalam; pembaca pun selalu penasaran akan konflik utama dari novel. Kejutan yang makin sering datang, membuat pembaca makin tidak bias menerka-nerka kelanjutan novel.

3.    Tema yang Unik

Tema yang diangkat di novel ini sangat jarang diangkat oleh karya sastra lainnya. Bahwa ada cerita manis dan pahitnya keromantisan di kala dunia hampir kiamat. Dua orang yang membutuhkan satu sama lain yang bahkan tidak peduli jika dunia akan hancur asalkan mereka tetap bersama. Penghapusan memori tentang hujan yang mencangkup keseluruhan jati diri seorang Esok di mata Lail yang membuatnya akan terlupa dengan kehadiran seseorang yang dianggapnya jauh lebih dari sahabat itu. Dengan tema yang sangat sulit, Tere Liye mampu mengemas cerita dengan baik dan menyajikannya dengan indah.

4.    Pesan Moral yang Kuat

Novel Tere Liye yang satu ini, seperti karya-karyanya yang lain, selalu meninggalkan pesan moral yang tidak membuat pembaca merasa digurui, melainkan meninggalkan kesan yang dalam pada pembaca. Pesan-pesan moral yang Ia sampaikan disajikan dalam bentuk tersirat maupun tersurat.

Contoh dari pesan tersirat itu sendiri yaitu bahwa manusia harus menjaga alam dengan baik karena alam bisa marah jika kita hanya mementingkan kepentingan kita sendiri. Dalam novel ini, diceritakan bahwa para pemimpin negara bersatu untuk melepaskan gas anti sulfur dioksida yang tentunya membawa manfaat untuk sesaat, namun menyembunyikan sejuta bahaya. Dunia yang awalnya terbebas dari musim dingin yang berkepanjangan malah terjebak dalam musim panas tanpa hujan yang tidak bisa diperbaiki.

Sementara untuk pesan tersurat, Tere Liye telah membungkus dengan apik pesan yang Ia sampaikan dengan kata-kata yang indah nan menyentuh hati. Pesan moral yang disampaikannya seolah mampu membuka mata dan melembutkan jiwa. Novel ini mengajarkan kita untuk menerima dan memeluk erat semua kenangan kita, karena kenangan itu sama seperti hujan. Ketika Ia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit. Hujan hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.

“Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik malah justru membawa kedamaian.(Halaman 255)

5.    Filmis

Beberapa adegan seperti saat bencana gunung meletus terjadi dan saat Lail dan Maryam berlari untuk mengevakuasi penduduk dua kota kembar dideskripsikan dengan baik sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasakan, dan mendengarkan dengan jelas apa yang sedang terjadi. Pembaca juga seolah diajak untuk berimajinasi di luar nalar. Membaca novel ini selalu membuat pembaca tersedot ke dalam cerita.

 

·      Kekurangan

 

1.    Kurangnya Pendalaman Beberapa Unsur

Dalam novel ini, Tere Liye tidak menempatkan para tokoh di dalamnya untuk berdoa dan beribadah. Tidak ada satupun bahasa agama di dalam novel ini, semuanya hanya membicarakan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi; kurang pendalaman dalam unsur agama. Hal yang sama juga terjadi pada unsur kehidupan sosial dalam masyarakat pada masa depan itu.

2.    Tokoh Lail yang Kurang Kuat

 Lail dalam novel ini karakternya kurang kuat. Ia jarang memiliki inisiatif sendiri. Keberhasilannya dalam berbagai hal di dalam cerita kebanyakan karena ajakan dari Maryam. Tanpa Maryam, Lail tidak akan mengikuti organisasi kemanusiaan. Seharusnya, Tere Liye menempatkan Lail sebagai inisiator, bukan tokoh yang mengikuti kemauan temannya, walaupun itu hasilnya baik juga. 

3.    Kesalahan Penulisan

Di halaman 120 tertulis, “Jika kalian bersedia, setelah menerima pin besok pagi, kalian akan ditugaskan segera di Sektor 3 selama liburan panjang.Namun, dalam halaman 135 tertulis, “Pagi ini kami berangkat ke Sektor 4, Penugasan pertama dari organisasi. Sebenarnya Lail itu ditugaskan di sektor 3 atau 4?

4.    Beberapa Hal Terkesan Dipaksakan

Beberapa hal seperti adegan saat Lail dan Maryam berlari sejauh 50 kilometer selama delapan jam terdengar tidak masuk akal. Namun, telah dijelaskan di novel bahwa mereka memakai baju dengan teknologi yang memberikan mereka kehangatan sehingga mereka tidak terkena Hipotermia. Lalu, setelah bencana yang demikian besar, ada beberapa fasilitas yang tidak rusak. Bagian itu mungkin membuat pembaca mengerutkan kening karena sedikit aneh dan kurang pas.

5.    Sampul Buku yang Tidak Memberikan Gambaran Cerita

 Sampul bagian belakang novel ini tidak memberikan gambaran jelas mengenai isi cerita dan hanya terfokus dengan tema novel yang sangat singkat. Padahal, banyak hal terutama latar kisah yang terjadi di masa depan yang perlu diilustrasikan dalam sampul. Hal ini agar pembaca lebih tertarik membaca novelnya karena sampul dapat menggambarkan isi cerita yang menarik dan unik.

 

·      Penutup

 

Terlepas dari kekurangannya, novel ini mempunyai kelebihan yang jauh lebih pantas dipertimbangkan. Alur cerita dan gaya bahasa yang disuguhkan mampu dikemas dengan begitu apik dari awal hingga akhir. Novel ini merupakan novel yang bagus dan berkualitas. Salah satu tandanya adalah penulis bisa memunculkan keinginan dari pembaca untuk terus mengikuti cerita sampai tamat karena jalan cerita susah ditebak.

Dari novel ini juga, kita dapat belajar bahwa jatuh cinta bukan tentang memiliki dan kenangan pahit lebih baik untuk diterima daripada dicoba untuk dilupakan.

 “Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta.”

 

Terima kasih. Sampai jumpa di postinganku selanjutnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[How To: 1] Cara Belajar dengan Efektif